PENGALAMAN MENGABDI YANG SANGAT BERKESAN DI DESA SOMBO

 

PENGALAMAN MENGABDI YANG SANGAT BERKESAN DI DESA SOMBO

Vina Nihayatul Khusna

KPM Multidisiplin Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan

Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) merupakan kegiatan perkuliahan pengabdian mahasiswa dalam bentuk belajar, meneliti dan bekerja bersama di masyarakat. KPM sendiri merupakan sebuah kegiatan perkuliahan pengabdian masyarakat sebagai salah satu bagian penting kegiatan pengamalan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang wajib ditempuh oleh seluruh mahasiswa IAIN Ponorogo. Dalam kegiatan KPM sendiri, kami sebagai mahasiswa berkesempatan untuk belajar, melakukan proses pencarian (research) dan bekeria bersama masyarakat. Di sini saya sebagai mahasiswa yang ikut serta dalam kegiatan KPM, menemukan banyak fenomena yang terjadi di masyarakat, baik fenomena yang berbasis pada sosial, kemasyarakatan, maupun fenomena yang berbasis pada keagamaan.

Tujuan dari diadakannya KPM itu sendiri yaitu secara umum untuk mempraktekkan ilmu yang telah didapatkan mahasiswa di bangku kuliah dalam bentuk pemberdayaan masyarakat, sehingga dapat meningkatkan kualitas dan kesejahteraan hidup masyarakat. Melalui program ini, mahasiswa diharapkan dapat berkontribusi dalam pembangunan masyarakat, khususnya di daerah-daerah yang membutuhkan bantuan dan pengembangan. Selain itu, KPM bertujuan untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam bekerja secara tim, berkomunikasi dengan berbagai lapisan masyarakat, dan memahami serta mencari solusi atas permasalahan sosial yang ada. Dengan demikian, KPM menjadi sarana bagi mahasiswa untuk mengasah soft skills dan memperkuat rasa empati serta tanggung jawab sosial mereka.

Waktu pelaksanaan KPM IAIN Ponorogo tahun 2024 dimulai pada tanggal 2 Juli - 10 Agustus 2024. Dalam hal ini, sehubungan dengan pembagian kelompok KPM oleh LPPM IAIN Ponorogo, kami ditempatkan pada kelompok 81 Multi disiplin, yang ditugaskan untuk melakukan pengabdian di Desa Sombo , Kecamatan Poncol, Kab Magetan. Disitulah sebelum kami survey ke lapangan ada pembekalan dari dosen pembimbing lapangan yaitu, ibu Yulia Anggraini. Setelah ada bimbingan tersebut kami berkumpul untuk menentukan ketua, sekretaris, bendahara, dan devisi lainnya. Setelah itu persiapan sebelum keberangkatan KPM saya menyiapkan beberapa keperluan mulai dari keperluan pribadi mapun keperluan kelompok dan lain sebagainya, yang dirasa di butuhkan selama 40 hari KPM. Selain persiapan tersebut juga dipersiapkan mental dan fisik serta materi.

Pelaksanaan survey lokasi KPM pertama kali pada tanggal 25 juni 2024, kami sebelumnya berkumpul di kampus 1 IAIN Ponorogo untuk menunggu teman-teman yang lain. Awal berangkat excited sekali karena disetiap perialanan disuguhi keindahan-keindahan alam yang indah. Temon saya sudah mulai istighfar karena perjalanannya naik turun terlebih saya diboceng teman saya dan dia mengendarai sepeda motor dengan kencang. Pertama kita semua menuju langsung menuju ke kantor desa, dan Alhamdulillah di sananya bertemu bapak lurah (Pak Ismadi) dan para jajarannya, kami disambut sangat baik oleh beliau-beliau. Tak lupa bersalaman dan kemudian berkenalan dan pak lurah akhirnya berbincang-bincang bersama kami.

Pada hari senin, tanggal 4 Juli 2024 waktunya untuk keberangkatan KPM ke Desa Sombo, Kecamatan Poncol, Kabupaten Magetan yang dimulai dari Pembukaan KPM oleh LPPM di kampus dan bapak ibu DPL serta perwakilan mahasiswa perkelompok di kecamatan. Kami berangkat dengan membawa motor dan untuk barang - barang kelompok dititipkan di pickup, setelah sampai posko kami disambut dengan senang hati oleh tuan rumah yaitu bapak Wardoyo sekeluarga. Dari sini kami dan teman-teman lainnya langsung bersih-bersih rumah yang akan kami tempat tinggali, setelah itu menata barang-barang yang di bawa tadi, memisahkah barang-barang kelompok dan barang pribadi tersebut untuk menjalani 40 hari kedepan. Dalam menjalani Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) selama 40 hari, kami mahasiswa IAIN Ponorogo yang bertempat tinggal disebuah rumah yang sudah dicarikan dari pihak desa tersebut.

Pada minggu pertama kami bersiap-siap untuk survey di desa tersebut untuk melihat potensi apa yang sudah ada di desa tersebut. Asset apa saja yang ada dan setiap ada kegiatan untuk berbaur dengan warga di desa. Pada malam harinya dilanjutkan dengan acara tahlil agar KPM bisa berjalan dengan lancer. Pada hari berikutnya kelompok melakukan kunjungan (sowan) kepada kepala desa dikantor desa, yang bertujuan untuk memberi tahu bahwa saya dan teman-teman siap untuk mengikuti KPM di desa Sombo.

Setelah berkunjung di kantor desa, saya dan teman-teman  memulai perjalanan menuju Puncak Blego. Perjalanan ini diperkirakan memakan waktu sekitar 2 jam perjalanan dengan jalan kaki. Kami melintasi jalan yang berbatu dan kadang-kadang menanjak, tetapi semangat kami tetap tinggi. Sepanjang perjalanan, kami disuguhkan dengan pemandangan yang memukau, sawah-sawah hijau membentang luas, pepohonan rindang, dan udara segar yang menyegarkan. Meski medan perjalanan cukup menantang, kebersamaan kami membuat perjalanan ini menyenangkan. Sesampainya di Puncak Blego, rasa lelah kami terbayar lunas dengan keindahan panorama alam yang memukau, memberikan kami kenangan yang tak terlupakan dan rasa pencapaian yang luar biasa.

Hari berikutnya kami memulai dengan mengikuti kegiatan bersih-bersih di balai desa sebagai persiapan untuk acara pembukaan kegiatan KPM di kantor desa Sombo. Kegiatan bersih-bersih ini melibatkan seluruh anggota kelompok KPM, menciptakan suasana gotong royong yang hangat dan penuh semangat. Setelah lingkungan balai desa terlihat lebih bersih dan rapi, kami melanjutkan acara dengan pembukaan resmi KPM yang dihadiri oleh Dosen Pembimbing Lapangan yaitu Bu Yulia, dan perangkat desa. Sambutan dari ketua kelompok, dosen pembimbing, dan kepala desa menambah semangat kami untuk menjalankan program-program yang telah direncanakan. Usai acara pembukaan, kami kembali ke posko untuk melakukan evaluasi dan rapat bersama Bu Yulia. Dalam rapat ini, kami mengevaluasi kegiatan yang telah berlangsung dan menyusun strategi untuk kegiatan selanjutnya, memastikan semua program dapat berjalan dengan efektif dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat desa Sombo.

Hari selanjutnya dimulai dengan kunjungan ke kamituwo Sombo dan Lembar, di mana kami berdiskusi mengenai program kerja yang cocok untuk kami dan mendapat masukan berharga untuk meningkatkan efektivitasnya. Setelah itu, kami melakukan survei ke sumber mata air Sirah Wetan untuk mengevaluasi kondisi dan potensi pemanfaatannya bagi masyarakat setempat. Sore harinya, anggota perempuan kelompok kami mengikuti acara yasinan bersama warga, diikuti dengan kegiatan istighosah, yang bertujuan untuk mempererat silaturahmi.

Hari berikutnya semua anggota berpartisipasi dalam kerja bakti di sumber air Sirah Kulon, yang melibatkan pembersihan dan perbaikan infrastruktur dasar untuk mendukung akses air bersih. Setelahnya, kami kami mengakhiri hari dengan evaluasi perkembangan program kerja per divisi, menilai kemajuan yang telah dicapai. sehingga program kami dapat terus berjalan dengan lancar dan memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat.

Pada minggu kedua, kegiatan kami dimulai dengan tujuh anggota perempuan menghadiri acara posyandu, di mana mereka berpartisipasi dalam berbagai aktivitas kesehatan untuk ibu-ibu dan anak, serta berdiskusi tentang program kesehatan yang bisa dilakukan bersama masyarakat. Sementara itu, anggota kelompok 1 bertugas piket di kantor kepala desa, membantu berbagai pekerjaan administrasi di kantor desa.

Selanjutnya, semua anggota laki-laki dan enam perwakilan perempuan melakukan sowan ke rumah Pak RT, untuk memperkenalkan diri dan membahas rencana kerja sama dalam pelaksanaan program KPM kami. Pada hari berikutnya seluruh anggota laki-laki melakukan sowan ke ketua karang taruna untuk membahas potensi kerja sama dalam kegiatan pemuda dan merencanakan kegiatan pemuda yang bisa diadakan selama masa KPM. Untuk sore sore harinya, anggota kelompok 1 mengaji bertugas mengajar di TPQ Masjid Miftakhul Jannah, Desa Sombo, disana dapat memberikan pelajaran agama kepada anak-anak setempat.

Pada minggu ketiga seluruh anggota laki-laki memulai aktivitas dengan melakukan percobaan biopori, yang merupakan program kerja utama kami. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan resapan air tanah dan mengurangi genangan air di lingkungan sekitar. Dengan penuh semangat, para anggota laki-laki menggali lubang-lubang biopori dan mengisi dengan bahan organik, berharap metode ini dapat diterapkan lebih luas di Desa Sombo. Sore harinya, enam orang perwakilan dari kelompok kami melakukan sowan ke Pak Rohmadin, kamituwo Sombo. Kunjungan ini penting untuk membahas kemajuan program dan mendapatkan masukan berharga mengenai pelaksanaan kegiatan kami di lapangan. Kami mengakhiri hari dengan rapat kelompok, di mana seluruh anggota berkumpul untuk membahas detail kegiatan dalam menjalankan program kerja utama, yaitu biopori. Rapat ini bertujuan untuk menyusun strategi dan langkah konkret agar program berjalan efektif dan berkelanjutan, dengan mempertimbangkan masukan dari berbagai pihak serta kondisi lapangan yang ada. Diskusi ini diharapkan dapat meningkatkan koordinasi dan efektivitas program kami ke depan.

Pada hari berikutnya kami memulai dengan mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SDN Sombo, di mana semua anggota kelompok berpartisipasi. Kami berinteraksi dengan para siswa baru dan membantu mereka beradaptasi dengan lingkungan sekolah, memberikan motivasi serta memperkenalkan program sosialisasi anti-bullying yang akan kami laksanakan. Setelah itu, kami melanjutkan dengan senam lansia di balai desa, bersama seluruh anggota kelompok dan warga lansia setempat, karena akan diadakannya lomba senam lansia.

Hari berikutnya, kami melaksanakan program penunjang berupa sosialisasi anti-bullying di SDN Sombo. Semua anggota kelompok berpartisipasi dalam kegiatan ini, memberikan penyuluhan kepada para siswa tentang pentingnya saling menghormati dan dampak negatif dari perilaku bullying. Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran siswa dan menciptakan lingkungan sekolah yang lebih aman dan nyaman.

Pada minggu keempat ini, Desa Sombo menjadi pusat keceriaan dan semangat yang luar biasa. Seminar perawatan jenazah yang diadakan di sana berlangsung dengan suasana berbeda, di mana para peserta diajak untuk mengikuti simulasi interaktif yang tidak hanya mendidik tetapi juga menghibur. Suasana gotong royong dan kebersamaan sangat terasa, menjadikan acara ini tidak hanya informatif tetapi juga penuh dengan tawa dan keceriaan.  Acara seminar perawatan jenazah di Desa Sombo diadakan dengan antusiasme yang tinggi. Selain memberikan informasi penting tentang cara merawat jenazah dengan benar, acara ini juga dirancang untuk menjadi lebih menarik dan menyenangkan. Pemateri dari KUA Poncol memberikan pengetahuan dan panduan praktis mengenai proses perawatan jenazah sesuai ajaran agama. Terdapat pula sesi tanya jawab dan simulasi langsung, di mana peserta berkesempatan untuk berpartisipasi aktif, sehingga mereka dapat benar-benar memahami dan mengaplikasikan pengetahuan yang diberikan.

Selain seminar perawatan jenazah, sosialisasi biopori di Desa Sombo juga menjadi sorotan utama. Kami melaksanakan program kerja “sosialisasi pemanfaatan sampah organik melalui teknik biopori,” yang diikuti oleh semua anggota kelompok. Dalam kegiatan ini mengahdirkan pemateri dosen dari IAIN Ponorogo kegiatan ini bertujuan untuk mengedukasi masyarakat tentang cara memanfaatkan sampah organik sebagai bahan untuk biopori, yang dapat meningkatkan resapan air tanah dan mengurangi genangan air. Warga diajak untuk berpartisipasi dalam kegiatan mengubah limbah sampah menjadi biopori, yang bermanfaat bagi kesuburan tanah. Semangat kompetisi dan keceriaan memenuhi acara ini, menciptakan kolaborasi tinggi. Kegiatan positif dan semangat gotong royong semakin kuat di Desa Sombo, di mana masyarakat bersatu untuk membawa perubahan positif dan menjaga lingkungan.

Acara-acara ini diharapkan mampu menginspirasi dan memberikan dampak positif bagi Desa Sombo. Seminar perawatan jenazah telah meninggalkan kesan bermanfaat, membekali warga dengan pengetahuan dan keterampilan baru dalam merawat jenazah sesuai ajaran agama. Para peserta menjadi lebih siap dan sadar dalam menghadapi situasi yang sering dianggap tabu ini. Selain manfaat praktis, acara ini mempererat tali silaturahmi antarwarga, membuat mereka lebih terbuka dalam berdiskusi dan saling mendukung.

Melalui seminar ini, warga merasa lebih teredukasi dan imannya meningkat, sehingga lebih siap menjalankan tugas sebagai umat Islam. Dengan begitu, acara ini tidak hanya memberikan manfaat praktis tetapi juga dampak psikologis positif bagi warga Desa Sombo, memperkuat komunitas dan mempersiapkan mereka untuk menghadapi tantangan bersama. dan memperkuat hubungan sosial serta spiritual dengan komunitas.

Pada minggu kelima, Di tengah semangat kebersamaan yang kuat di Desa Sombo, seluruh anggota kelompok kami berperan sebagai pendukung dalam lomba Linmas (Perlindungan Masyarakat) yang berlangsung meriah. Lomba ini menjadi ajang untuk menguji keterampilan dan kekompakan para anggota Linmas desa dalam berbagai tantangan fisik dan strategi, sekaligus menghibur seluruh warga yang turut menyaksikan. Desa Sombo bukan satu-satunya yang terlibat dalam acara tersebut-rombongan dari berbagai desa lain juga turut serta, menambah semarak suasana dengan riuh rendah sorakan dan atribut khas mereka masing-masing.

Kami tiba di lapangan lebih awal untuk memberikan semangat kepada tim Linmas Desa Sombo. Saat lomba dimulai, suasana menjadi semakin meriah. Setiap kali tim Linmas kami berhasil menyelesaikan tantangan, sorak-sorai semakin menggema. Suara teriakan dan tepuk tangan kami membahana di sekitar lapangan, menciptakan suasana yang penuh semangat dan persaudaraan. Kami berteriak, "Sombo! Sombo! Sombo!" dengan penuh antusias, seolah-olah setiap teriakan kami menambah kekuatan bagi tim di lapangan.

Tidak hanya menambah semangat para peserta, dukungan kami juga mempererat hubungan antara anggota kelompok dengan warga desa, membuat acara ini menjadi lebih berkesan dan meriah. Selama acara berlangsung, kami berbagi makanan dan minuman, tertawa bersama, dan merayakan setiap pencapaian kecil yang diraih oleh tim kami. Kegembiraan semakin memuncak ketika akhirnya diumumkan bahwa Desa Sombo berhasil meraih juara pertama dalam perlombaan Linmas.

Kemenangan ini menjadi kebanggaan bagi seluruh warga Desa Sombo. Para anggota Linmas dan  sporter dari desa Sombo kemudian foto bersama untuk kenangan. Kemenangan ini bukan hanya soal piala atau medali; ini adalah kemenangan bagi semangat gotong royong, kebersamaan, dan dukungan yang kami berikan satu sama lain. Desa Sombo, dengan kehangatan dan kekompakannya, telah menunjukkan bahwa ketika kita bersatu, tidak ada yang tidak mungkin untuk diraih.

Hari berikutnya pada malam itu, Desa Sombo diselimuti oleh suasana yang khidmat dan penuh semangat. Persiapan untuk acara penutupan KPM dan peringatan Tahun Baru Hijriah bersama ranting NU dimulai dengan khataman Al-Qur'an di Masjid Al-Ikhlas. Semua anggota kelompok dan masyarakat setempat berkumpul di masjid, siap mengikuti acara yang akan menguatkan ikatan kebersamaan di antara mereka. Lampu-lampu masjid bersinar terang, menambah kehangatan malam itu. Di dalam, suara merdu lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an menggema, menyejukkan hati dan menenangkan jiwa setiap orang yang hadir. Semua peserta, dari anak-anak hingga orang tua, duduk dengan khusyuk, mengikuti khataman yang dipimpin oleh para sesepuh desa. Setiap ayat yang dibaca terasa membawa kedamaian, dan ketika khataman selesai, doa bersama dipanjatkan dengan penuh rasa syukur dan harapan. Momen ini bukan hanya menjadi refleksi spiritual, tetapi juga kesempatan untuk mengenang dan merayakan segala pencapaian yang telah diraih selama program KPM.

Setelah malam khataman yang penuh kedamaian dan makna, keesokan harinya para anggota laki-laki bergegas menuju Masjid Al-Ikhlas untuk mempersiapkan acara penutupan yang akan diadakan pada malam hari. Suasana pagi itu dipenuhi dengan semangat dan antusiasme, saat mereka berkumpul di halaman masjid, siap mengubah area tersebut menjadi tempat yang istimewa untuk penutupan KPM dan peringatan Tahun Baru Hijriah. Para anggota laki-laki memulai persiapan dengan membersihkan dan merapikan area masjid. Mereka menyapu lantai, mengatur kembali karpet, dan menata kursi-kursi untuk para tamu yang akan hadir. Dengan gotong royong, mereka mendirikan tenda dan menghias area dengan lampu-lampu kecil dan hiasan bunga, menciptakan suasana yang hangat dan menyambut.

Di tengah persiapan, mereka juga memastikan peralatan sound system dan perlengkapan lainnya berfungsi dengan baik. Beberapa dari mereka mencoba mikrofon, memastikan suara lantunan sholawat akan terdengar jelas dan merdu di seluruh area masjid. Semangat kebersamaan terasa kental, ketika setiap anggota berkontribusi sesuai dengan keahlian dan perannya masing-masing

Sedangkan tim konsumsi, terdiri dari tujuh orang, sibuk membantu Bu Ika menyiapkan konsumsi untuk para tamu yang akan menghadiri acara nanti malam. Rumah Bu Ika dipenuhi dengan aroma masakan tradisional yang menggiurkan. Di dapur, kami bekerja sama untuk menyiapkan masakan yang sudah jadi. Canda tawa dan cerita-cerita seru mengalir di antara kami, membuat suasana rewang semakin hangat dan penuh keakraban.

Di sela-sela kesibukan, ada canda tawa dan obrolan ringan yang menambah kehangatan suasana. Meski bekerja keras, mereka tetap menikmati setiap momen, merasa bangga atas apa yang kami lakukan untuk desa dan komunitas. Semangat gotong royong yang kuat membuat pekerjaan terasa ringan dan menyenangkan. Menjelang sore, persiapan hampir selesai. Masjid Al-Ikhlas telah siap menyambut para tamu dengan segala keindahannya. Para anggota laki-laki menatap hasil kerja mereka dengan perasaan puas, mengetahui bahwa acara malam nanti akan menjadi momen yang tak terlupakan bagi seluruh warga desa.

Ketika matahari mulai terbenam, Masjid Al-Ikhlas bersiap menjadi pusat kebersamaan dan perayaan. Malam itu, acara penutupan akan menjadi puncak dari semua usaha dan kerja keras yang telah dilakukan selama program KPM. Para anggota laki-laki kembali ke tempat mereka, siap menyambut malam dengan penuh antusiasme dan harapan, menantikan saat-saat berharga yang akan segera tiba. Di tengah-tengah acara, beberapa anggota kelompok berbagi cerita dan pengalaman selama menjalankan KPM. Mereka mengenang berbagai kegiatan yang telah dilakukan dan betapa banyaknya pelajaran serta kenangan indah yang diperoleh. Sambutan singkat dari ketua kelompok yang disampaikan untuk mengungkapkan rasa terima kasih kepada masyarakat Desa Sombo atas sambutan dan dukungan yang luar biasa.

Saat malam tiba, mushola Al-Ikhlas dipadati oleh warga yang datang untuk mengikuti acara sholawatan. Jumlah warga yang hadir sangat banyak, memenuhi mushola dan area sekitarnya. Suasana menjadi semakin khidmat ketika lantunan sholawat menggema, dipimpin oleh kelompok ranting NU. Lantunan sholawat membawa kedamaian dan kebersamaan, menyatukan semua yang hadir dalam doa dan pujian. Acara dilanjutkan dengan penutupan KPM kelompok 81. Pidato singkat yang disampaikan oleh ketua untuk mengungkapkan rasa terima kasih dan membagikan kenangan indah selama KPM di Desa Sombo. Tepuk tangan meriah dari warga dan anggota kelompok menandai berakhirnya program ini dengan sukses.

Setelah acara resmi selesai, seluruh anggota kelompok dan beberapa warga melakukan kerja bakti, membersihkan mushola dan area sekitarnya. Meski lelah, semangat gotong royong dan kebersamaan membuat pekerjaan terasa ringan. Kami membersihkan, mengembalikan peralatan, dan memastikan mushola kembali rapi seperti semula.

Malam itu, Desa Sombo bersinar dengan semangat kebersamaan dan gotong royong yang begitu kuat. Acara penutupan KPM dan peringatan Tahun Baru Hijriah menjadi momen istimewa yang tidak hanya merayakan pencapaian kelompok tetapi juga mempererat hubungan kami dengan warga desa. Pengalaman ini meninggalkan kenangan yang tak terlupakan dan memperkuat rasa kebersamaan di antara kami semua.

Pelaksanaan KPM di Desa Sombo memberikan banyak hikmah dan nilai yang berharga bagi setiap pesertanya. Salah satu hikmah utamanya adalah pentingnya kebersamaan dan gotong royong. Selama kegiatan, baik saat membantu memasak di rumah Bu Ika, membersihkan mushola, hingga mempersiapkan acara penutupan, semua anggota kelompok dan warga saling bekerja sama. Ini tidak hanya menumbuhkan rasa saling percaya tetapi juga membangun ikatan yang lebih kuat di antara mereka. Selain itu, program ini memberikan pengalaman berharga dalam berinteraksi dengan masyarakat, memperluas wawasan dan pemahaman tentang keberagaman budaya dan kehidupan di pedesaan.

Kesan yang ditinggalkan oleh pelaksanaan KPM ini sangat positif. Semua peserta merasa diterima dengan hangat oleh warga Desa Sombo dan mendapatkan kesempatan untuk belajar banyak dari kearifan lokal. Program ini juga meningkatkan keterampilan komunikasi, kepemimpinan, dan manajemen waktu, yang sangat bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari. Pesan yang dapat diambil dari kegiatan ini adalah pentingnya pengabdian kepada masyarakat dan bagaimana kontribusi kecil dari setiap individu dapat memberikan dampak besar.

Sebagai saran untuk pelaksanaan KPM di masa depan, lebih banyak kegiatan interaktif dapat diadakan untuk lebih melibatkan masyarakat, seperti workshop keterampilan atau kegiatan olahraga bersama. Selain itu, memperpanjang durasi program dapat memberikan waktu yang lebih untuk menyelesaikan proyek-proyek yang direncanakan dan memungkinkan peserta untuk lebih memahami dinamika sosial masyarakat setempat. Dengan demikian, KPM tidak hanya menjadi sarana pengabdian tetapi juga jembatan penghubung antara generasi muda dan masyarakat, menciptakan perubahan positif yang berkelanjutan.

Comments

Popular Posts