Berawal Dari Yang Belum Kenal Menjadi Akrab Seperti Keluarga
Berawal Dari Yang Belum Kenal Menjadi Akrab Seperti Keluarga
Oleh: Rizki Ilhaam Maulana (Tadris IPA/ FTIK)
1. Pendahuluan
Kegiatan
Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) merupakan salah satu program penting dalam
dunia pendidikan tinggi di Indonesia, yang mengintegrasikan antara teori yang
dipelajari di bangku kuliah dengan praktik langsung di masyarakat. Salah satu
contohnya adalah pengalaman KPM 81 di Desa Sombo, Magetan, yang bertema
“Berawal dari Belum Kenal Menjadi Akrab Seperti Keluarga”. KPM ini tidak hanya
memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengaplikasikan ilmu yang telah
dipelajari, tetapi juga mempererat hubungan sosial antara mahasiswa dengan
masyarakat desa. Di Desa Sombo, proses adaptasi dan interaksi awal yang penuh
tantangan berubah menjadi keakraban dan kedekatan yang menyerupai hubungan
keluarga. Pengalaman ini menggambarkan transformasi yang signifikan dalam
hubungan sosial dan kontribusi positif yang dapat diberikan oleh mahasiswa
kepada komunitas lokal.
Kuliah
Pengabdian Masyarakat sendiri di organisir oleh Lembaga Penelitian dan
Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Institut Agama Islam Negeri Ponorogo. Secara
struktural LPPM berada di bawah Rektor dan bertanggung jawab kepada Rektor.
Fasilitas yang diberikan meliputi kaos KPM, benner kelompok dan buku panduan
KPM serta buku catatan.
Anggota
KPM yang beranggotakan 20 anggota yang terdiri dari 6 orang laki-laki dan 14
orang perempuan dari berbagai jurusan dan fakultas yang ada di kampus Institut
Agama Islam Negeri Ponorogo. Penunjukan ketua KPM yang ditunjuk secara langsung
oleh anggota KPM 81 yang melakukan kumpulan di warung Gendis Ponorogo dan
dipilihlah saudara Fauzi Eka Mubarok sebagai ketua kelompok KPM 81 di Desa
Sombo, Magetan. Kelompok KPM 81 di dampingi oleh Bu Yulia Anggraini sebagai Dosen
Pembimbing Lapangan (DPL).
Penulis
adalah seorang mahasiswa semester 7 dari prodi Tadris Ilmu Pengetahuan Alam Fakultas
Tarbiyah dan Ilmu Keguruan. Mahasiswa yang sedang mencari jati diri serta
sedang berusaha untuk mengangkat drajat orang tuanya dan membuktikan kepada
orang-orang yyang memandang sebelah mata, bahwa seorang anak petani mampu
mewujudkan mimpi yang menurut orang-orang terkesan sulit untuk dicapai.
Kuliah
Pengabdian Masyarakat yang bertempat di Desa Sombo. Desa Sombo terletak di
Kabupaten Magetan, Provinsi Jawa Timur. Desa Sombo terbagi menjadi tiga dusun
yaitu Dusun Sombo, Dusun Lembar, dan Dusun Duwet. Desa ini berada di daerah
perbukitan, sehingga memiliki kontur wilayah yang berbukit-bukit dan dataran
tinggi. Ketinggian wilayahnya memberikan udara yang sejuk dan panorama alam yang
indah. Penduduk Desa Sombo sebagian besar bekerja di sektor pertanian. Selain
itu, ada juga yang bekerja di sektor peternakan, perkebunan, dan kerajinan
tangan. Kehidupan masyarakatnya masih kental dengan adat dan budaya lokal.
Potensi
Alam dan Wisata yang dimiliki Desa Sombo antara lain; sektor pertanian: Desa
Sombo memiliki lahan pertanian yang subur. Komoditas utama yang dihasilkan
antara lain padi, jagung, sayuran, dan buah-buahan. Sistem irigasi yang baik
mendukung produktivitas pertanian di desa ini. Sektor perkebunan: Terdapat
kebun-kebun kopi dan cengkeh yang menjadi salah satu sumber pendapatan
masyarakat. Sektor peternakan: Masyarakat juga mengembangkan peternakan sapi,
kambing, dan ayam sebagai sumber penghasilan tambahan. Sektor Budaya dan Tradisi:
Desa Sombo masih mempertahankan berbagai tradisi dan budaya lokal. Upacara
adat, kesenian tradisional, dan kegiatan gotong royong masih sering dilakukan.
Hal ini menciptakan rasa kebersamaan dan kekeluargaan yang kuat di antara warga
desa. Sektor Infrastruktur: Infrastruktur di Desa Sombo cukup memadai dengan
jalan desa yang sudah diaspal, fasilitas pendidikan, dan pelayanan kesehatan.
Namun, akses ke desa ini mengharuskan menggunakan kendaraan yang benar-benar sehat
karena medan yang dilalui sedikit menanjak. Sektor Pemerintahan: Desa Sombo
dipimpin oleh seorang Kepala Desa yang bertugas mengelola pemerintahan desa dan
menjalankan program-program pembangunan. Pemerintahan desa berfokus pada
peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui berbagai program pembangunan
ekonomi dan sosial.
Dengan
segala potensi dan keunikannya, Desa Sombo memiliki daya tarik tersendiri yang
dapat dikembangkan lebih lanjut untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan
memperkenalkan keindahan alam serta budayanya kepada wisatawan.
2. Minggu Pertama
Pada
minggu pertama ini kegiatannya diawali pada 1 Juli 2024 sebagian anggota
sebanyak 10 mahasiswa mengikuti kegiatan pembukaan yang diikuti oleh seluruh
kelompok pengabdian masyarakat dari kampus IAIN Ponorogo, Universitas Gajah
Mada dan Universitas Brawijaya yang bertempat di Gedung Olahraga Ki Mageti
Kabupaten Magetan pada pukul 13.00 WIB. Pada hari pertama, tanggal 2 Juli 2024 perwakilan anggota
mengikuti kegiatan pembukaan Kuliah Pengabdian Masyarakat di halaman Institut Agama
Islam Negeri Ponorogo kampus 1. Pada keesokan harinya melakukan sowan ke kepala
desa dan dilanjutkan dengan melakukan kegiatan survei di Puncak Blego. Puncak
Blego adalah sebuah puncak yang terletak di Desa Sombo. Kegiatan survei terjadi
karena rasa penasaran anggota KPM dan diakhiri dengan seluruh anggota yang
capek karena muncak tanpa persiapan. Pembukaan KPM dilakukan pada hari ketiga
yang diikuti oleh seluruh anggota KPM dan semua tamu undangan seperti perangkat
desa dan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL).
Pada
minggu pertama ini juga dilakukan sowan ke pengurus TPQ, sowan ke rumah kamituwo
Dusun Sombo dan Dusun Lembar, sowan ke rumah Pak RT yang ditempati sebagai
posko, sowan ke SDN Sombo dan sowan ke ketua karang taruna yang ada di desa
tersebut, serta melakukan survei di sumber mata air Sirah Wetan.
· Mata air Sirah Wetan dan Sirah Kulon
Desa Sombo memiliki dua mata air yang mencukupi
kebutuhan air di wilayah tersebut yang bernama Sirah Wetan dan Sirah Kulon. Pada
bulan Muharam biasanya di dua sumber mata air tersebut kerja bakti dan kirim
doa kepada leluhur yang ada di desa tersebut. Seperti pada Sirah Kulon
dilakukan kegiatan kerja bakti bersih-bersih area mata air dan dilanjutkan
dengan acara kirim doa dengan tumpeng sebagai sarana shodaqoh, sedangkan di
Sirah Wetan melakukan kegiatan bersih-bersih dan dilanjutkan dengan
penyembelihan kambing serta pengolahan daging kambing di tempat tersebut
setelah itu dilakukan kirim doa dan daging yang diolah tadi dibagikan kepada
masyarakat yang hadir di tempat tersebut.
TPQ
Taman Pendidikan Al-Qur’an (disingkat TPA atau TPQ)
merupakan lembaga atau kelompok masyarakat yang menyelenggarakan pendidikan
nonformal jenis keagamaan Islam yang bertujuan untuk memberikan pengajaran
membaca Al-Qur’an sejak usia dini, serta memahami dasar-dasar nilai Islam pada
anak usia taman kanak-kanak, sekolah dasar. Kegiatan TPQ bertempat di masjid Miftakhul
Jannah yang terletak di Dusun Sombo, Desa Sombo, Kecamatan Poncol, Kabupaten
Magetan. Kegiatan TPQ pada awalnya dilakukan tiga kali pertemuan dalam seminggu
yakni pada hari Senin, Rabu, dan Jumat , akan tetapi teman-teman KPM mengajukan
kegiatan TPQ dilakukan lima kali pertemuan dalam seminggu yakni dari hari Senin
sampai Jumat, yang mana kelima hari tersebut diisi oleh anggota KPM yang dibagi
menjadi beberapa kelompok dan dilakukan secara bergiliran. TPQ adalah salah
satu program penunjang yang buat oleh kelompok KPM. Untuk materi yang diajarkan
yaitu, untuk hari Senin, Rabu, dan Jumat untuk anak-anak yang masih belajar
iqra materi yang diajarkan adalah kitab ‘Udi Susila, kitab ini menjelaskan
tentang adab seorang anak terhadap orang tua. Dan untuk anak-anak yang sudah
belajar Al-Qur'an yaitu kitab yang membahas tentang tajwid. Untuk hari Selasa
dan Kamis materi yang diajarkan adalah fiqih yang berpedoman dari kitab Mabadi'
Fiqih.
3. Minggu Kedua
Pada
minggu kedua ini kegiatannya adalah kerja bakti membersihkan sumber mata air di
Sirah Wetan, yang kegiatannya sudah dipaparkan di atas meliputi membersihkan sampah
di sekitar lokasi mata air dan penyembelihan kambing di lokasi sumber mata air.
Pada malam harinya di balai desa diadakan kegiatan bersih desa dengan
menghadirkan pertunjukan wayang kulit semalam suntuk, Bapak Tito Sunardi
sebagai dalang yang bertugas pada malam hari itu. Pada hari sebelumnya di balai
desa diadakan pembagian sembako. Pada malam satu Muharam diadakan kegiatan
istighotsah dan sholawatan. Untuk malam minggu anggota perempuan mengikuti
kegiatan yasinan ibu-ibu yang ada di Desa Sombo.
·
Pagelaran
wayang kulit
Pagelaran wayang kulit adalah seni khas Masyarakat
Jawa, mengisahkan cerita – cerita Mahabaratha dan Ramayana, selain itu
terkadang juga mengisahkan tentang Kisah Panji. Kegiatan ini rutin diadakan
setiap tahun sekali di balai desa Sombo, sebagai ajang bersyukur yang mana
sebelum diadakan pagelaran wayang di dahului dengan kegiatan santunan anak yatim.
Bapak Tito Sunardi sebagai dalang pada malam hari tersebut beserta para
pengrawit berasal dari Kabupaten Wonogiri sedangkan untuk dagelan adalah Gareng
Pacitan. Anggota KPM diberi tugas oleh pihak desa sebagai pembawa acara dan pramusaji.
4. Minggu Ketiga
Pada
minggu ketiga ini Kuliah Pengabdian Masyarakat yang bertempat di Desa Sombo
mengikuti kegiatan MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah) di SDN Sombo. Pada
sela-sela MPLS KPM 81 mengadakan kegiatan sosialisasi anti bullying yang
merupakan salah satu program kerja yang dimiliki oleh KPM 81. Pada hari Jumat
pagi anggota KPM yang tidak terjadwal piket melakukan bersih masjid yang
berlokasi di Dusun Sombo. Pada tanggal 22 Juli 2024, anggota yang bertugas
menyebarkan surat undangan untuk menunjang
program kerja berupa pemulasaraan jenazah. Untuk malam minggu anggota perempuan
mengikuti kegiatan yasinan ibu-ibu yang ada di Desa Sombo.
·
MPLS
(Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah)
MPLS merupakan program penyambutan siswa baru
sebelum memulai proses belajar mengajar. Pelaksanaan pengenalan lingkungan
sekolah diperlukan untuk mendukung proses pembelajaran. Kegiatan ini
berlangsung selama dua minggu yang ditujukan kepada anak-anak kelas satu yang
baru masuk jenjang sekolah dasar. Kegiatan meliputi pengenalan fasilitas yang
dimiliki sekolah, kegiatan yang dijalankan di sekolah dan lain sebagainya.
· Sosialisasi Anti Bullying
Sosialisasi anti bullying adalah salah satu
program kerja yang dimiliki kelompok KPM 81 yang difokuskan pada anak-anak
sekolah dasar dari kelas 4 sampai kelas 6, dengan pengisi materi dari anggota
KPM yaitu saudari Fabela Nurul Aisyah dan saudara Eka Nur Fauzi Mubarok. Kegiatan
ini bertujuan untuk mengenalkan bahaya bullying yang sering terjadi pada
lingkungan sekolah. Serta memberikan hadiah kepada anak-anak yang berani maju
dan menjawab pertanyaan yang diberikan oleh pemateri.
· Pemberdayaan Masjid
Program ini dibuat untuk membuat masjid menjadi
lebih menarik dari sebelumnya, karena kurangnya identitas pada masjid dan warna
cat masjid yang sudah sedikit meluntur, anggota KPM berinisiatif untuk
menjadikan program kerja. Diawali dengan mengamplas masjid bagian pagar, tiang,
dan tembok dilanjutkan dengan mengecatnya. Dari permasalahan awal kurangnya
identifikasi masjid, maka dari anggota KPM juga memberikan papan nama yang
berhiaskan kaligrafi beserta alamat lengkapnya sebagai penanda dan penama
masjid tersebut.
5. Minggu Keempat
Pada
minggu keempat ini di hari Selasa diadakan program kerja berupa pemulasaraan
jenazah. Serta program kerja utama berupa seminar pemanfaatan sampah organik
melalui teknik biopori. Juga melaksanakan program kerja penunjang meliputi
mengajar di TPQ, dan membantu kegiatan MPLS. Untuk malam minggu anggota
perempuan mengikuti kegiatan yasinan ibu-ibu yang ada di Desa Sombo.
· Pemulasaraan Jenazah
Program kerja pemulasaraan jenazah ini muncul
karena usulan salah satu tokoh masyarakat yang merasakan keresahan karena di
Desa Sombo sendiri masyarakat yang paham tentang perawatan jenazah tergolong
masih sedikit. Kegiatan ini mengundang pemateri dari Kantor Urusan Agama (KUA).
Untuk sasaran program kerja ini adalah perwakilan masyarakat Sombo dan organisasi masyarakat.
· Seminar Biopori
Program kerja utama kami muncul karena melihat
banyaknya tumpukan sampah di depan masjid Dusun Sombo. Awalnya ingin membuat tempat
pembakaran sampah tanpa asap akan tetapi melihat budget yang minim maka
dari kelompok KPM 81 mengganti menjadi biopori karena memerlukan budget yang
sedikit. Sebelum mengadakan kegiatan seminar dari KPM 81 mengadakan percobaan
yang dilakukan di halaman balai desa dan berhasil.
Karena keberhasilan dari percobaan ini maka kami
langsung merancang sebuah acara yaitu seminar biopori dari sampah organik. Dengan
mendatangkan salah satu dosen dari Institut Agama Islam Negeri Ponorogo yaitu
bapak Mufti Abrori, M.Si yang mengajar di Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan dari
jurusan Tadris IPA. Setelah persiapan yang matang, pada hari yang ditentukan
dilakukan acara dan kegiatan ini berlangsung dengan lancar.
6. Minggu Kelima
Pada
minggu kelima ini semua program kerja sudah terlaksana tinggal melaksanakan
program penunjang meliputi mengajar di TPQ dan piket di balai desa, serta
memikirkan acara penutupan. Atas usulan dari Bapak Hendrik selalu tokoh
masyarakat yang mengurusi bidang keagamaan, maka kegiatan penutupan digabungkan
dengan kegiatan masyarakat berupa rutinan khataman Al-Qur'an Binnadhor dan
diakhiri dengan lantunan Sholawat Simtudduror yang menghadirkan grup sholawat
dari Kabupaten Madiun. Untuk malam minggu anggota perempuan mengikuti kegiatan
yasinan ibu-ibu yang ada di Desa Sombo, serta pamitan bahwa kegiatan KPM sudah
semakin berakhir.
·
Acara
Penutupan
Seperti paparan diatas konsep kegiatan penutupan dari
Bapak Hendrik yang merupakan salah satu pengurus Ranting Nahdlatul Ulama di
Desa Sombo. Sebelum mengadakan kegiatan penutupan dari pihak KPM 81 melakukan
koordinasi dengan pengurus Ranting NU Sombo lalu sowan ke takmir Mushola
Al-Ikhlas dan Bapak Kamituwo Dusun Lembar yang menjadi lokasi penutupan.
Untuk hasil dari koordinasi yang sudah disepakati
untuk persiapan penutupan seperti menyiapkan panggung terop dan sound sistem
dari pihak KPM, untuk konsumsi dari pihak muslimat dan dibantu oleh sebagian
anggota KPM. Untuk pemasangan panggung dan terop dibantu oleh masyarakat. Pada
malam minggu dimulai dengan pembukaan khataman Al-Qur'an Binnadhor yang selesai
pada jam 14.00 WIB.
Warga masyarakat Desa Sombo sangat semangat dan
antusias sehingga memenuhi halaman yang disediakan, hal tersebut membuat kami
senang dan terharu karena acara terakhir yang kami buat mendapatkan apresiasi
penuh dari warga masyarakat Sombo. Penutupan ini diharapkan menjadi momen
berkesan dan menyenangkan bagi seluruh warga desa, serta memberikan penghargaan
kepada semua pihak yang telah berkontribusi. Melalui kegiatan ini, saya
berharap dapat meninggalkan kesan positif dan kenangan manis terhadap warga
Desa Sombo.
7. Penutup
Dari
kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini saya mendapatkan banyak sekali
pembelajaran dan pengalaman selama waktu KPM. Suka maupun duka dilalui selama proses
KPM ini berjalan. Banyak pembelajaran yang kami dapatkan seperti cara berbaur
atau sosialisasi dengan masyarakat, menjalin keakraban antar anggota kelompok,
banyak sekali drama-drama yang dialami oleh anggota KPM.
Seperti
judul yang tertera diatas yang mana antar anggota KPM dari berbagai fakultas
dan jurusan yang dikumpulkan menjadi satu dalam sebuah kelompok KPM yang
berawal dari belum mengenal satu sama lain menjadi tahu kehidupan antar anggota
KPM yang akrab seperti keluarga. Dari yang awalnya di comblangin menjadi akrab
sampai dibuat konten di media sosial dan berakhir asing tanpa saling tegur sapa
wkwkwkwkwk.
Proses
perpisahan atau pamitan kepada masyarakat seperti kegiatan rutinan yasinan
ibu-ibu yang berlangsung dengan tangisan dan perpisahan secara ceremonial di
halaman Mushola Al-Ikhlas yang dapat mengetuk hati antara anggota KPM dan masyarakat.
Terimakasih
kami ucapkan kepada masyarakat Desa Sombo dan LPPM yang sudah membuat program
pengabdian masyarakat. Ucapan terimakasih saja dari penulis mungkin belum cukup
untuk mewakili atas apa yang diperoleh selama proses pengabdian masyarakat di
Desa Sombo, Magetan seperti pengalaman bersosialisasi terhadap masyarakat,
Alhamdulillah masyarakat dapat menerima dengan baik kehadiran kelompok kami.
Ucapan terimakasih juga penulis berikan kepada teman-teman KPM yang sudah
kompak menjalani kehidupan di Desa Sombo ini selama 40 hari dengan banyak drama
yang dilalui.
Tak lupa ucapan maaf
yang sebesar-besarnya kepada masyarakat Desa Sombo khususnya dan teman-teman
KPM atas perbuatan yang kurang berkenan dihati kalian semua.
Comments
Post a Comment