Budaya Kerja Bakti dalam Mempertahankan Kebersihan Sumber Air Sirah Wetan di Desa Sombo

 

“Budaya Kerja Bakti dalam Mempertahankan Kebersihan Sumber Air Sirah Wetan di Desa Sombo”

ELNADA GEFANIA SYAHPUTRI

Pendahuluan

Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) merupakan kegiatan belajar yang dilakukan di perkuliahan dengan mengintegrasikan pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui metode pemberian pengalaman belajar dan bekerja kepada mahasiswa dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat. Melalui kegiatan Kuliah Kerja Nyata akan mampu menumbuhkan daya kritis dan pengalaman bagi mahasiswa. Maka dari itu, program Kuliah Pengabdian Masyarakat ini menjadi salah satu mata kuliah intrakulikuler yang wajib ditempuh oleh mahasiswa pada setiap program studi jenjang S-1.

Kegiatan KPM bukan hanya upaya transfer atau praktek ilmu pengetahuan kepada masyarakat, tetapi KPM juga merupakan upaya pemberdaya sebagai proses pencarian kembali yang dilakukan bersama masyarakat untuk mencari solusi terbaik dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapi. Pada tahun ini, kegiatan KPM Multi Disiplin menjadi nama resmi kegiatan KPM yang dilakukan oleh mahasiswa Institut Agama Islam Ponorogo (IAIN), Kegiatan KPM ini dilakukan secara berkelompok dan luring, laporan kegiatan mingguan dan harian dilaporkan melalui digital dengan media sosial. Para peserta KPM Multi Disiplin disebar menjadi 3 kecamatan yaitu, kecamatan Magetan, Wonogiri, dan Ponorogo dengan periode pelaksanaan pada tanggal 2 Juli sampai dengan 10 Agustus.

Desa Sombo yang berada di Kecamatan Poncol, Kabupaten Magetan menjadi tempat kegiatan KPM yang dilaksanakan oleh kelompok kami, yakni kelompok 81 KPM Multi Disiplin. Selama kurang lebih satu bulan kami mengabdikan diri pada desa ini, banyak kegiatan masyarakat yang kami ikuti dan program kerja yang sudah kami rencanakan sebelumnya, telah terlaksana sesuai dengan usaha maksimal yang kami berikan.

Desa Sombo sendiri merupakan salah satu desa yang memiliki kekayaan alam berupa sumber air Sirah Wetan. Sumber air ini tidak hanya menjadi penunjang kehidupan sehari-hari masyarakat setempat, tetapi juga berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem dan mendukung aktivitas pertanian. Dalam konteks ini, budaya kerja bakti menjadi salah satu strategi kunci dalam mempertahankan kebersihan dan keberlanjutan sumber air tersebut.

ISI

Budaya kerja bakti di Desa Sombo telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Kerja bakti, yang merupakan kegiatan gotong royong atau kerja sama antara warga desa, mencerminkan nilai-nilai kebersamaan dan solidaritas. Aktivitas ini dilakukan secara rutin setiap suro dengan tujuan menjaga kebersihan lingkungan, termasuk sumber-sumber air seperti Sirah Wetan.

Suro, sebagai bagian dari kalender Jawa, melambangkan awal tahun baru menurut penanggalan Jawa. Pada setiap suro, masyarakat biasanya mengadakan kegiatan kerja bakti untuk membersihkan, memperbaiki, dan menjaga kelestarian sumber mata air yang ada di desa sombo. Kegiatan ini melibatkan seluruh komunitas, dari pemuda, ibu-ibu, hingga para tua-tua yang turut serta dengan penuh semangat dan rasa tanggung jawab.

Salah satu nilai yang muncul dari budaya kerja bakti adalah rasa kebersamaan. Ketika masyarakat bergotong royong membersihkan sumber mata air, mereka tidak hanya membersihkan sampah dan menggali saluran air, tetapi juga memperkuat ikatan sosial di antara tetangga dan generasi yang lebih muda. Hal ini membentuk kesadaran Masyarakat setempat akan pentingnya menjaga lingkungan dan memperlakukan sumber daya alam yaitu mata air sirah wetan dengan penuh hormat.

Mata air merupakan sumber alami di mana air tanah naik ke permukaan tanah atau mengalir secara langsung ke permukaan tanah. Mata air merupakan salah satu sumber air yang penting dalam siklus hidrologi bumi. Mata air sendiri dapat ditemukan di berbagai tempat, seperti lereng bukit, lembah, maupun dataran rendah. Mata air dapat muncul sebagai titik-titik air yang kecil yang kemudian  menyembur ke permukaan tanah atau sebagai sumber air yang mengalir secara terus menerus dalam bentuk sungai kecil atau aliran air.

Keberadaan mata air sangat penting bagi kehidupan manusia dan ekosistem di sekitarnya. Mata air adalah sumber daya alam yang sangat penting dan sensitif. Pentingnya menjaga kebersihan sumber air tidak bisa dipandang sebelah mata. Sumber air yang bersih tentu akan mendukung kualitas kesehatan masyarakat dan keberlanjutan ekosistem yang ada. Namun, tantangan dalam menjaga kebersihan sumber air sering kali datang dari berbagai faktor, seperti pencemaran akibat limbah organik, sampah yang dibuang sembarangan, serta kerusakan vegetasi di sekitar sumber air.

Untuk mengatasi masalah tersebut, budaya kerja bakti di Desa Sombo mengadopsi pendekatan berbasis komunitas setiap malam satu suro. Setiap warga desa memiliki peran aktif dalam menjaga kebersihan dan kelestarian sumber air. Misalnya, kegiatan kerja bakti di sekitar sumber air dilakukan setiap satu suro untuk membersihkan sampah dan kotoran yang dapat mencemari kualitas air. Selain itu, edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga kelestarian lingkungan sekitar sumber mata air sirah wetan dan perlunya menjaga vegetasi di sekitar sumber air juga menjadi bagian dari upaya ini.

Budaya kerja bakti juga mendorong sinergi antara masyarakat dan pemerintah desa. Pemerintah desa, dengan dukungan dari berbagai pihak, dapat menyediakan fasilitas dan sarana yang mendukung kegiatan kerja bakti, seperti pengelolaan terhadap limbah organic yang ada dan juga pelatihan tentang pengelolaan limbah. Kerja sama ini memperkuat komitmen bersama untuk menjaga kebersihan dan keberlanjutan sumber air Sirah Wetan.

Pengelolaan limbah organic sendiri sudah dilakukan di desa sombo melalui program kerja yang dilaksanakan oleh teman-teman KPM 81 yaitu melalui sosialisasi pemanafaatan sampah organic melalui Teknik biopori. Pengelolaan limbah organik yang baik bukan hanya menjaga keindahan lingkungan tetapi juga mendukung keberlanjutan sumber daya alam bagi generasi mendatang.

Peran serta aktif dari generasi muda juga menjadi bagian penting dalam upaya menjaga kebersihan sumber air. Melalui program-program pendidikan dan pelatihan yang melibatkan sekolah-sekolah dan lembaga pendidikan setempat, generasi muda diajarkan tentang pentingnya keberlanjutan sumber daya air dan cara-cara menjaga kebersihannya. Ini tidak hanya membangun kesadaran, tetapi juga memastikan bahwa nilai-nilai kerja bakti dan tanggung jawab terhadap lingkungan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

Budaya kerja bakti juga mendorong sinergi antara masyarakat dan pemerintah desa. Pemerintah desa, dengan dukungan dari berbagai pihak, dapat menyediakan fasilitas dan sarana yang mendukung kegiatan kerja bakti, seperti tempat pembuangan sampah yang memadai dan pelatihan tentang pengelolaan limbah. Kerja sama ini memperkuat komitmen bersama untuk menjaga kebersihan dan keberlanjutan sumber air Sirah Wetan.

Budaya kerja bakti juga mencerminkan kearifan lokal dalam mengelola sumber daya alam secara berkelanjutan. Dengan keterlibatan aktif masyarakat dalam setiap tahapan perawatan sumber mata air, mereka menjaga agar tradisi ini tetap relevan dan berlanjut dari generasi ke generasi. Hal ini menunjukkan bahwa kearifan lokal dan nilai-nilai budaya dapat menjadi landasan yang kuat dalam upaya konservasi lingkungan.

Budaya kerja bakti sebagai bagian dari budaya lokal sangatlah penting. Selain memelihara sumber mata air, kegiatan ini juga menjaga identitas budaya masyarakat setempat serta mengajarkan nilai-nilai gotong royong dan tanggung jawab sosial kepada generasi yang akan datang. Secara keseluruhan, budaya kerja bakti dalam memelihara sumber mata air setiap suro bukan hanya tentang membersihkan dan merawat lingkungan fisik, tetapi juga tentang membangun komunitas yang kuat dan berkelanjutan. Ini adalah contoh konkret bagaimana tradisi lokal dapat menginspirasi tindakan konservasi yang berkelanjutan dan memperkuat ikatan sosial di antara warga masyarakat.

Dalam konteks yang lebih luas, keberhasilan budaya kerja bakti dalam mempertahankan kebersihan sumber air Sirah Wetan di Desa Sombo dapat dijadikan contoh bagi desa-desa lain. Pendekatan berbasis komunitas dan keterlibatan aktif masyarakat dalam menjaga sumber daya alam merupakan kunci keberhasilan dalam pelestarian lingkungan. Dengan terus melestarikan budaya kerja bakti dan memperkuat kolaborasi antara semua pihak, diharapkan sumber air Sirah Wetan akan tetap menjadi sumber kehidupan yang bersih dan berkelanjutan bagi masyarakat Desa Sombo.

 

KESIMPULAN

Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) adalah kegiatan belajar yang integrasikan pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui metode pemberian pengalaman belajar dan bekerja kepada mahasiswa dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat. KPM juga merupakan upaya pemberdaya sebagai proses pencarian kembali yang dilakukan bersama masyarakat untuk mencari solusi terbaik dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapi.

Desa Sombo, yang berada di Kecamatan Poncol, Kabupaten Magetan, memiliki kecamatan KPM yang dilaksanakan oleh kelompok kami, yakni kelompok 81 KPM Multi Disiplin. Desa Sombo telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Kerja bakti, yang merupakan kegiatan gotong royong atau kerja sama antara warga desa, mencerminkan nilai-nilai kebersamaan dan solidaritas. Aktivitas ini dilakukan secara rutin setiap suro dengan tujuan menjaga kebersihan lingkungan, termasuk sumber air Sirah Wetan.

Pada setiap suro, masyarakat biasanya mengadakan kegiatan kerja bakti untuk membersihkan, memperbaiki, dan menjaga kelestarian sumber mata air yang adalah Sirah Wetan. Kegiatan ini melibatkan seluruh komunitas, dari pemuda, ibu-ibu, hingga para tua-tua yang turut serta dengan penuh semangat dan rasa tanggung jawab.

Secara keseluruhan, budaya kerja bakti dalam memelihara sumber mata air setiap suro bukan hanya tentang membersihkan dan merawat lingkungan fisik, tetapi juga tentang membangun komunitas yang kuat dan berkelanjutan. Ini adalah contoh konkret bagaimana tradisi lokal dapat menginspirasi tindakan konservasi yang berkelanjutan dan memperkuat ikatan sosial di antara warga masyarakat. Dengan terus melestarikan budaya kerja bakti dan memperkuat kolaborasi antara semua pihak, diharapkan sumber air Sirah Wetan akan tetap menjadi sumber kehidupan yang bersih dan berkelanjutan bagi masyarakat Desa Sombo.

Kesan Saya Selama KPM di Desa Sombo

Desa Sombo merupakan Desa yang terletak di Dataran Tinggi teparnya di Lereng Gunung Blego. Sehingga merupakan daerah Penghasil Kelapa Muda yang melimpah. Kelapa muda dapat ditemui dengan mudah di seluruh Desa Sombo. Desa Sombo terletak di Kecamatan Poncol Kabupaten Magetan Provinsi Jawa Timur yang merupakan daerah pegunungan yang berketinggian 600,00 M di atas Permukaan Air Laut , dengan batas wilayah Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Cileng Kecamatan Poncol, sebelah Timur berbatasan dengan Desa Ngunut Kecamatan Parang, sebelah selatan berbatasan dengan Desa Trosono Kecamatan Parang serta Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Sukorejo Kabupaten Wonogiri, dengan luas wilayah 282,75 Ha, Desa Sombo terbagi dalam 3 Dusun, 6 RW, 15 RT

Masyarakat Desa Sombo mayoritas bekerja pada sektor petanian, perkebunan dan peternakan. Akan tetapi, sektor peternakan bukan merupakaan prioritas utama karena tidak setiap rumah mempunyai hewan ternak, hanya sebagian masyarakat saja. Hasil dari peternakan di Desa Sombo ini adalah ayam peterlur. Sedangkan pada sektor pertanian menjadi prioritas utama yang dikembangkan oleh Masyarakat Desa Sombo, masyarakatnya banyak fokus pada hasil pertanian dari padi, jagung, sayur. Selain pada sektor pertanian dan peternakan, sektor dari Perkebunan juga menjadi fokus masyarakat, mayoritas masyarakat memiliki kebun cengkeh, kelapa, dan ketela yang memang cocok ditanam pada daerah dataran tinggi.

Selama KPM berlangsung, saya banyak belajar tentang arti kesederhanaan dan kebersamaan bersama teman-teman. Kami semua membiasakan diri untuk selalu sederhana, terutama dalam menu makanan. Kami menumbuhkan dan memupuk kebersamaan di setiap harinya. Kami selalu melakukan kegiatan bersama-sama dan melakukan koordinasi dengan baik. Pengalaman tinggal bersama warga desa juga memperkaya wawasan saya tentang budaya dan adat istiadat lokal. Saya merasa sangat beruntung bisa menjadi bagian dari masyarakat desa dan semoga dengan diadakannya setiap program kerja memberikan kontribusi yang berarti bagi masyarakat.

KPM mengajarkan saya banyak hal, mulai dari cara beradaptasi dengan lingkungan baru, bekerja sama dalam tim, hingga mengaplikasikan ilmu yang telah saya pelajari di bangku kuliah. Pada awal pemberangkatan, saya merasa sangat sulit beradaptasi dengan suhu yang rendah dan lingkungan yang jauh dari pusat kota, namun dengan seiring berjalannya waktu saya dapat beradaptasi dengan lingkungan hingga akhir masa Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM). Dalam hal koordinasi dengan teman-teman sekelompok, saya merasa sangat terbantu dengan ilmu-ilmu yang saya pelajari di bangku kuliah dan juga ilmu-ilmu yang saya dapatkan selama mengikuti organisasi mahasiswa.

Selama KPM saya harus melakukan interaksi yang intens dengan warga desa yang membuat saya semakin peduli terhadap sesama dan lingkungan sekitar. Selama KPM saya menuntut diri saya untuk bisa bersosialisasi dengan baik, tentang bagaimana bisa membaur dengan masyarakat, tentang bagaimana memahami kondisi masyarakat sekitar dan masih banyak hal yang belum bisa saya ungkap kan.

Momen KPM ini juga mengajarkan saya tentang bagaimana memahami dan menempatkan diri dengan sesama teman kelompok dengan bertukar pemikiran, latar belakang jurusan yang berbeda serta pengalaman yang tentunya banyak memiliki perbedaan. Untuk mendapatkan satu kesepakatan memerlukan waktu yang cukup panjang, karena masing-masing memiliki argumen dan pemahaman yang berbeda tetapi seiring berjalannya waktu setelah mamiliki tujuan yang sama pada akhirnya kesepakatan lebih mudah tercapai.

Saya merasa sangat beruntung menjadi bagian dari Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) kelompok 81 Desa Sombo, saya mendapatkan kehangatan dalam kebersamaan dalam setiap momennya. Semua anggota memiliki pemikiran dan gagasan masing-masing tetapi mereka hebat karena mau mendengarkan aspirasi dan argumen dari orang lain. Dan saya juga merasa sangat beruntung bisa ditempatkan di Desa Sombo ini yang sangat kaya akan potensi alamnya, masyarakatnya yang masih menjungjung tinggi budaya dan kearifan lokal serta masyarakatnya yang sangat ramah-ramah dan baik. Untuk masyarakat Desa Sombo terimakasih telah menerima kami dengan tangan terbuka dan senyum yang ramah, serta terimakasih juga untuk semua bimbingan yang telah diberikan kepada kami, sehingga kami bisa mendapatkan pengalaman yang sebelumnya belum pernah kami dapatkan pada bangku perkuliahan, terimakasih untuk anak-anak desa yang dengan gembira menyambut kami dengan antusiasme tinggi, dan terimakasih terhadap seluruh lapisan masyarakat atas dukungannya selama 40 hari ini. Sehingga kami dan anak-anak di lingkungan Desa Sombo mereka cukup marasakan kesedihan ketika KPM ini telah usai. Saya merasa sangat senang karena bisa mengabdikan diri saya kepada masyarakat tepatnya di Desa Sombo.

Terimakasih untuk rekan-rekan KPM atas kerjasama dan solidaritasnya sehingga program-program kerja yang diagendakan selama 40 hari ini dapat berjalan dengan baik. Dan terimakasih atas rasa kekeluargaan yang sangat hangat yang kalian berikan ditengah dinginnya suhu desa ini, semoga kebersamaan tetap terjalin seterusnya. Terimakasih Desa Sombo dengan kekayaan alam dan Masyarakat super humble.

 

Comments

Popular Posts