MENGUKIR CERITA BERMAKNA

 

MENGUKIR CERITA BERMAKNA

Fabela Nurul Aisyah

(KPM Multi Disiplin (IAIN Ponorogo/PAI/FTIK))

 

              Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) adalah program pengabdian kepada masyarakat yang merupakan bagian dari kurikulum pendidikan tinggi. Program ini bertujuan untuk menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi secara langsung di masyarakat, sehingga mahasiswa dapat berkontribusi dalam pengembangan dan pemberdayaan masyarakat. Pengabdian masyarakat melalui KPM merupakan kegiatan perkuliahan pengabdian yang sistematis dan terstruktur dibawab bimbingan dosen. KPM menjadi salah satu bagian dari kegiatan intrakulikuler yang membeerikan kesempatan pada mahasiswa untuk meneliti, belajar serta beerkontribusi dengan masyarakat.  KPM adalah kegiatan partisipatif yang berbasis  pada pemberdayaan masyarakat dimana dimana mahasiswa dan masyarakat saling berekerja sama dalam dalam menggali potensi serta menyelesaikan masalah yang dihadapi dalam masyarakat.

              Tujuan KPM sendiri ada tiga yaitu yang pertama adalah Tujuan Umum, dimana KPM bertujuan mempraktekan ilmu yang telah didapatkan dibangku kuliah dalam bentuk pemberdayaan masyarakat sehingga menghasilkan kualitas dan kesejahteraan hidup masyarakat meningkan. Kedua tujuan khusus yaitu melatih penalaran dan kepekaan mahasiswa, mengembangkan potensi mahasiswa untuk melakukan improvisasi dan inovasi dalam profesi, memberikan pengalaman belajar, memberikan bantuan pemikiran kepada masyarakat, mendampingi serta membersamai masyarakat dalam membangun desa. Ketiga yaitu tujuan internasional yaitu memberikan kontribusi bagi pengembangan Tri Dharma Perguruan Tinggi, meningkatkan kepekaan sosial civitas akaddemika dan meningkatkan kemampuan perguruan tiggi dalam memberikan manfaat sosial.

Langkah Awal di Sombo

              Pada tanggal 2 Juli 2024, penulis memulai perjalanan mereka untuk menjalankan program pengabdian masyarakat di Desa Sombo, Kecamatan Poncol, Kabupaten Magetan. Selama 40 hari, hingga 10 Agustus 2024, kelompok yang terdiri dari 20 mahasiswa ini melaksanakan berbagai kegiatan yang bertujuan untuk berkontribusi positif bagi masyarakat setempat. Program ini tidak hanya menjadi ajang bagi mahasiswa untuk menerapkan ilmu yang telah mereka pelajari, tetapi juga sebagai sarana untuk memahami dinamika kehidupan masyarakat pedesaan secara lebih mendalam.

              Awal kita sampai di Sombo yaitu sowan ke kantor desa dengan maksud membeeritahukan bahw kita sudah datang dan siap untuk melaksanakan pengabdian. Satu hari sebelum kita brangkat kita bersih-bersih posko yang kita tempati. Posko yang penulis tempati adalah salah satu rumah warga desa sombo yang bernama Bapak Wardoyo. Uniknya disini masih ada dapur kotor yang memakai kayu. Malam pertama di Sombo kita mengawali dengan berdo’a, kita lantunkan tahlil dan do’a untuk para leluhur dan diikuti oleh seluruh anggota kelompok

              Keesokan harinya kita sudah mulai mengeksplor masyarakat sekitat. Kita menemukan salah satu aset desa yaitu Puncak Blego. Penulis bersama teman-teman berinisiatif untuk survey ke puncak tersebut. Akhirnya perjalanan dimulai sekitar pukul 09.00 pagi hari. Semua bersama-sama berangkat dengan menggunakan motor, melihat ditengah-tengah perjalanan tidak mendukung menggunakan motor akhirnya penulis dan teman-teman memutuskan untuk jalan kaki saja. Akhirnya sampailah dipuncak seekitar pukul 12 siang dan cuaca sangat panas. Tapi semua terbayarkan dengan indahnya pemandangan.

              Dikarenakan pada hari pertama kedatangan kita masih belum bisa pembukaan di kantor kepala desa sebab masih repot kita baru bisa melaksanakan pembukaan dihari ke tiga tanggal 4 juli 2024. Dihadiri oleh seluruh perangkat desa, pembimbing lapangan dan tentunya teman-teman yang berbahagia. Bersamaan dengan hadirnya pembimbing lapangan yaitu Bu Yulia Anggraini beliau juga mampir ke posko kita memberikan arahan dan bimbingannya. Dari apa yang telah disampaikan beliau bisa kita gunakan sebagai evaluasi untuk lebih baik lagi kedepannya.                                                                                                                                                           

Kehidupan Sehari-hari di Desa Sombo

              Selama 40 hari, penulis menjalani kehidupan yang sarat dengan kegiatan. Setiap pagi, bangun pagi-pagi sekali untuk memulai rutinitas harian. Suasana pagi di Desa Sombo yang sejuk dan asri menjadi penambah semangat untuk menjalani aktivitas. Setelah bangun pagi, kegiatan dimulai dengan memasak sarapan secara bergantian. Anggota kelompok berbagi tugas, mulai dari menyiapkan bahan, memasak, hingga membersihkan peralatan masak. Hal ini tidak hanya melatih kemandirian, tetapi juga mempererat kerjasama dan kekompakan di antara anggota kelompok.

              Sembari menunggu sarapan agar badan tetap sehat dan bugas kita disetiap paginya melakukan rutinitas senam. Estimasi waktunya kurang lebih setengah jam saja. Beberapa waktu setelah sarapan sudah matang kita sarapan dan kita melanjutkan dengan membersihkan posko dan lingkungan sekitar. Kegiatan bersih-bersih ini menjadi kebiasaan yang dijalani setiap hari agar tempat tinggal mereka selalu bersih dan nyaman dan terbebas dari penyakit-penyakit.

              Dihari-hari awal kita datang tak lupan kita sowan kerumah para perangkat desa dengan tujuan kita ucapkan salam untuk tinggal di Sombo  dan mohon untuk selalu di suport dalam segala hal yang kita lakukan untuk desa Sombo. Selain itu, setiap hari terdapat jadwal piket di kantor desa.  Selama piket, anggota kelompok membantu perangkat desa dalam berbagai pekerjaan administratif, termasuk mendata keperluan warga, membantu dalam pengarsipan, dan pekerjaan lainnya yang diperlukan. Kehadiran mahasiswa di kantor desa juga memberikan warna baru dan membantu mempercepat pekerjaan yang ada. Untuk setiap harinya ada 2 anak perwakilan membantu di kantor desa.

              Kita tidak hanya fokus pada kegiatan internal, tetapi juga aktif berpartisipasi dalam kegiatan masyarakat setempat. Salah satu kegiatan rutin yang mereka ikuti adalah senam lansia. Setiap minggu, mereka berbaur dengan warga lanjut usia desa Sombo untuk mengikuti kegiatan senam bersama. Senam ini tidak hanya bermanfaat untuk kesehatan fisik, tetapi juga menjadi ajang untuk mempererat tali silaturahmi antara mahasiswa dan warga desa.

              Selain senam lansia, kami juga rutin mengikuti kegiatan yasinan yang diadakan setiap malam Minggu. Kegiatan ini menjadi momen penting bagi mahasiswa untuk lebih mendalami kehidupan religius masyarakat desa serta membangun hubungan yang lebih erat dengan warga. Selain itu, mereka juga ikut serta dalam rutinan sholawat yang dilaksanakan setiap dua minggu sekali. Melalui kegiatan ini, mahasiswa dapat belajar tentang tradisi keagamaan setempat dan merasakan kekayaan budaya yang dimiliki Desa Sombo.

              kelompok penulis tidak hanya terbatas pada kegiatan sosial dan keagamaan. Penulis  juga terlibat aktif dalam bidang pendidikan. Setiap hari, beberapa anggota kelompok mengajar di Sekolah Dasar (SD) setempat. Mereka membantu para guru dalam mengajar, memberikan bimbingan belajar tambahan, dan mengadakan kegiatan kreatif untuk meningkatkan minat belajar siswa. Kehadiran mahasiswa di sekolah memberikan semangat baru bagi para siswa dan membantu meningkatkan kualitas pembelajaran.

              Selain di SD, penulis juga aktif mengajar di Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ). Mereka memberikan pelajaran membaca Al-Qur’an kepada anak-anak dan remaja desa. Kegiatan ini menjadi sarana bagi penulis untuk berbagi ilmu agama dan membantu meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an generasi muda di desa Sombo.

Partisipasi dalam Kegiatan Bersih Desa

              Salah satu momen yang sangat dinantikan selama pengabdian adalah partisipasi dalam kegiatan bersih desa yang merupakan tradisi tahunan di Desa Sombo. Kegiatan ini melibatkan seluruh warga desa dan ditandai dengan acara wayangan yang meriah. Penulis  turut ambil bagian dalam persiapan dan pelaksanaan acara ini. Pnulis membantu dalam menyiapkan lokasi, mendekorasi panggung, dan menjaga kebersihan selama acara berlangsung. Keterlibatan dalam kegiatan ini memberikan pengalaman berharga bagi mahasiswa untuk belajar tentang tradisi dan kebudayaan lokal yang kaya.

              Kegiatan bersih desa wayangan dilakukan pada tanggal 12 juli 2024. Penulis beserta teman-teman dimintai tolong sebagai pensukses acara, kita dimintai sebagai MC, dan pramusaji. Kegiatan tersebut sangat meriah karena masyarakat banyak yang turut hadir dalam acara tersebut. Dengan ada kegiatan bersih desa wayangan penulis tahu akan budaya yang masih sangat dijaga dan dilestarikan.

              Penulis sempat bertanya-tanya pada salah satu warga di Sombo yaitu Bu Karti beliau adalah salah satu Tim Penggerak PPK. Beliau meengatakan bahwa wayangan merupakan tradisi pada setia bulan suro di kecamatan Poncol. Jadi seluruh Desa dikecamatan Poncol semua mengadakan bersih desa dengan mengadakab acara wayangan, konon katanya ada salah satu desa yang tidak melaksanakan wayangan akan mendapatkan hal seesuatu yang tidak mengenakkan atau musibah.

              Tradisi ini sudah berjalan sejak lama, dan ada saat Desa Sombo tidak bisa melakukan wayangan yaitu pada tahun 2020 karena ada wabah Covid-19 yang melemahkan seluruh kegiatan akhirnya Desa Sombo mengganti kegiatan wayangan dengan peengajian. Sembari msyarakat khusuk dalam berdo’a semoga segeera dihilangkan virus Covid-19

Pelaksaan Program Kerja

              Selama pengabdian di Desa Sombo, penulis juga menjalankan empat program kerja (proker) unggulan yang dirancang untuk memberikan dampak positif bagi masyarakat. Keempat program tersebut adalah seminar bullying di SD, pemberdayaan masjid, diklat perawatan jenazah, dan pemanfaatan sampah organik melalui teknik biopori sebagai pupuk kompos.

1.      Seminar Bullying di SD

Salah satu proker yang dijalankan adalah seminar bullying di Sekolah Dasar. Dalam seminar ini, penulis beserta teman-teman memberikan penyuluhan kepada siswa dan guru tentang pentingnya mencegah dan menangani kasus bullying di lingkungan sekolah. Melalui pendekatan yang interaktif dan edukatif, para siswa diajak untuk memahami dampak negatif dari bullying dan bagaimana cara menghadapinya. Kegiatan ini diharapkan dapat menciptakan lingkungan sekolah yang lebih aman dan nyaman bagi semua siswa.

Program kerja ini dilakukan pada tanggal 18 Juli 2024. Penulis mendapatkan tugas untuk mengisi materi yang berjudul “Gerakan Anti Bulliying”. Disini menjadi pengalaman yang ta bisa dilupakan oleeh penulis. Dengan memberikan materi kepada anak SD yang notabennya sulit untuk diatur dan masih suka main sendiri, tetapi insyaallah materi yang penulis sampaikan bisa dimengerti oleh siswa-siswi SD semua. Diakhir acara semua peserta diberikan jajan yang bertuliskan kata-kata gerakan anti bullying dengan harapan siswa lebih faham akan materi yang telah disampaikan.

2.      Pemberdayaan Masjid

Proker pemberdayaan masjid dilakukan di Masjid Miftakhul Jannah. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan peran masjid sebagai pusat kegiatan keagamaan dan sosial di desa. kami mengadakan berbagai kegiatan seperti pengajian, serta memperbaiki fasilitas masjid yang rusak. Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan masyarakat dapat lebih aktif memanfaatkan masjid sebagai tempat untuk beribadah dan berkumpul dalam berbagai kegiatan positif.

Program kerja ini mulai dilakukan pada tanggal 20 Juli 2024. Yaitu kita mengecat pagar dan tembok masjid. Program kerja ini dilakukan kurang lebih selama 4 hari. Disisni penulis mendapatkan pengalaman baru lagi, yaitu dimana ttidak pernah mengecat sama sakali, dengan ini memberikan pengalaman barudan sangat beerkesan bagi penulis. Sebagai kenangan-kenangan karena kita sudah diizikan meembantu meengaajar di TPA juga kita memberikan papan nama masjid dengan kaligrafi.

3.      Diklat Perawatan Jenazah

Diklat perawatan jenazah merupakan salah satu proker yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam merawat jenazah sesuai dengan ajaran agama. Kami bekerja sama dengan tokoh agama setempat untuk memberikan pelatihan kepada warga desa. Pelatihan ini mencakup proses memandikan, mengkafani, menshalatkan, hingga menguburkan jenazah. Diharapkan melalui diklat ini, masyarakat Desa Sombo dapat lebih siap dan mandiri dalam menghadapi situasi yang memerlukan penanganan jenazah.

Program kerja ini dilaksanakan pada tanggal 23 juli 2024 yang bertempat di aula balai desa Sombo. Penulis mendapat pengalaman baru yaitu berupa pengetahuan, dimana sebeelumnya bellum faham betul akan cara mengurusi jenazah kini makin tahu lagi. Pelaksanaan program kerja ini didasari oleh keinginan salam satu ta’mir masjid yang meminta tolong untuk mengadakan acara terseebut. Alhamdulillah masyarakat juga sangat antusias berpartisipasi dengan diklat tersebut.

4.      Pemanfaatan Sampah Organik melalui Teknik Biopori

Sampah organik merupakan salah satu masalah lingkungan yang dihadapi oleh masyarakat Desa Sombo. Untuk mengatasi masalah ini, kami melaksanakan proker pemanfaatan sampah organik melalui teknik biopori sebagai pupuk kompos. Mahasiswa memberikan pelatihan kepada warga desa tentang cara membuat lubang biopori dan memanfaatkannya untuk mengolah sampah organik menjadi kompos. Program ini tidak hanya membantu mengurangi sampah, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat melalui penggunaan pupuk kompos untuk pertanian.

Program kerja ini dilakukan pada tanggal 27 juli 2024 yang brtempat di balai desa Sombo. Pada pelaksanaan ini penulis mendapatkan kesempatan menjadi morderator. Hal ini menjadi pengalaman yang sangat berkesan bagi peenulis. Pada program kerja ini mendatangkan pemateri dosen kampus IAIN Ponorogo, yang mengampu pada jurusan tadris Ilmu Pengetahuan Alam. Kami harapkan dengan terlaksananya proker ini dapat membantu masyarakat dalam mengelola sampah organik

Pelaksanaan proker ini dimulai pada jam 08.00 yang dihadiri oleh para perangkat desa sombo, bapak ketua RT atau perwakilan, dan perwakilan dari karang taruna. Dari masing-masing perwakilah kita berikan saru biopori untuk contoh dan agar program kerja yang kita laksanakan membekas dan bermakna.

              Dengan terlaksananya seluruh program kita baik itu program kerja penunjang maupun inti kita harapan bermanfaat dan selalu membekas di hati masyarakat Desa Sombo. Semoga penulis juga bisa mengambil hikmah dan pelajaran dari seluruh rangkaian pengabdian yang telah dilaksanakan. Diakhir sebagai penutup rangkaian kegiatan kami anggotan KPM 81 IAIN Ponorogo mengadakan acara Gema Sholawat berkolaborasi dengan ranting NU Sombo

Penutup

              Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) yang dilakukan oleh penulis dan teman-teman di Desa Sombo merupakan pengalaman yang sarat dengan hikmah dan nilai berharga. Program ini menjadi salah satu wujud nyata dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Beberapa hikmah, kesan, dan pesan yang bisa diambil selama pengabdian mahasiswa dapat menerapkan ilmu yang telah mereka pelajari di bangku kuliah secara langsung di masyarakat. Misalnya, pelatihan teknik biopori untuk mengolah sampah organik menjadi pupuk kompos merupakan penerapan ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi lingkungan dan perekonomian masyarakat.

              KPM memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk bekerja sama dengan masyarakat dalam menggali potensi dan mengatasi masalah yang dihadapi. Program-program seperti seminar bullying, diklat perawatan jenazah, dan pemberdayaan masjid menunjukkan upaya pemberdayaan masyarakat melalui pendidikan, sosial, dan keagamaan. Serta dilatih untuk mengembangkan kemampuan berkomunikasi, kepemimpinan, kerjasama tim, dan manajemen waktu. Kegiatan sehari-hari, seperti mengatur jadwal piket di kantor desa dan mengorganisir acara-acara komunitas, menumbuhkan kemandirian dan tanggung jawab.

              Selama pelaksanaan KPM, penulis merasakan kekompakan dan kerjasama yang erat di antara anggota kelompok. Kegiatan bersama seperti memasak, bersih-bersih, dan mengajar di SD serta TPQ mempererat ikatan dan menciptakan pengalaman yang tak terlupakan. Pengalaman berinteraksi dengan masyarakat, terlibat dalam tradisi lokal, dan menghadapi tantangan di lapangan memberikan kesan mendalam. Momen-momen seperti mendaki Puncak Blego dan ikut serta dalam kegiatan senam lansia menambah kekayaan pengalaman selama KPM.

              Dengan mengambil hikmah dan pelajaran dari pengalaman KPM di Desa Sombo, semoga penulis dan teman-teman dapat mengaplikasikan nilai-nilai positif tersebut dalam kehidupan sehari-hari dan terus berkontribusi untuk kemajuan masyarakat. Pengalaman ini juga diharapkan dapat membekas di hati masyarakat Desa Sombo, memberikan manfaat jangka panjang, dan mempererat hubungan antara perguruan tinggi dan masyarakat.

Comments

Popular Posts