Tanggung Jawab Seorang Ketua pada Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) di Desa Sombo
Tanggung Jawab Seorang Ketua pada Kuliah Pengabdian Masyarakat
(KPM) di Desa Sombo
Eka Nur Fauzi Mubarok
KPM Multidisiplin Hukum Keluarga Islam Fakultas Syari’ah
Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM)
merupakan salah satu bentuk pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan oleh
mahasiswa sebagai bagian dari tridarma perguruan tinggi. Dalam KPM, mahasiswa
tidak hanya menerapkan ilmu yang mereka pelajari di bangku kuliah, tetapi juga
belajar mengenai dinamika sosial, ekonomi, dan budaya di masyaraka,Dalam progam
Kuliah Pengabdian Masyarakat ini juga dapat menanamkan jiwa kepedulian terhadap
sekitar dan rasa tanggung jawab terhadap sesama baik berkontribusi dalam setiap
kegiatan di lingkungan maupun desa yang mana sangat di perlukan bagi seorang
mahasiswa semester akhir yang sebentar lagi lulus dari bangku perkuliahan dan
akan terjun langsung mengabdi di Masyarakat yang mereka tinggali,belajar
menjadi pemimpin yang siap di butuhkan di lingkungan mereka dan Masyarakat
desanya yang siap membawa perubahan (agen of change) seperti slogan mahasiswa
kini.
Pada Kuliah Pengabdian Masyarakat ini
satu kelompok terdiri 20 orang yang mana teman satu kelompok sudah di bagi oleh
LPPM (Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat) IAIN Ponorogo Karena
disini Penulis memilih KPM multidisiplin maka teman satu kelompok penulis
terdiri dari berbagai fakultas dan jurusan yang berbeda sesuai pembagian dari
LPPM dan pada KPM Multidisiplin Kelompok 81 IAIN Ponorogo yang di tempatkan di
Desa Sombo Kecamatan Poncol Kabupaten Magetan ini penulis di tunjuk, di beri Amanah oleh
teman-teman satu kelompok sebagai ketua kelompok, yang mana Ketua adalah Salah
satu elemen penting dalam keberhasilan program KPM adalah peran ketua kelompok.
Ketua KPM memiliki tanggung jawab yang besar, tidak hanya sebagai pemimpin
kelompok, tetapi juga sebagai penghubung antara universitas, kelompok KPM, dan
masyarakat setempat.
Pada Kuliah Pengabdian Masyarakat Tahun
2024 ini berjalan Selama 40 hari yang mana di mulai dari tanggal 2 Juli sampai
10 Agustus Dari selama kegiatan berlangsung banyak pengalaman baru yang penulis
dapat baik Ketika kegiatan dari progam kerja yang telah di buat oleh Kelompok, hubungan
dengan masyarakat maupun hubungan dengan Kelompok KKN dari Universitas lain
yang juga di kirim di desa ini. Berikut adalah sedikit pengalaman yang di dapat penulis ketika
menjadi ketua kelompok maupun ketika selama kegiatan KPM ini berlangsung.
Tugas dan Tanggung Jawab Ketua KPM
1. Perencanaan dan Pengorganisasian
Tugas utama seorang ketua KPM adalah
merencanakan dan mengorganisasikan kegiatan kelompok. Ini meliputi menyusun
rencana kerja, menentukan tujuan yang ingin dicapai, serta merancang
program-program yang akan dilaksanakan selama masa KPM. Ketua harus mampu
mengidentifikasi kebutuhan masyarakat dan menyusun program yang relevan dan
bermanfaat. Selain itu, ketua juga bertanggung jawab memastikan bahwa setiap
anggota kelompok memahami peran dan tugas masing-masing, serta menyusun jadwal
kegiatan yang jelas dan terstruktur agar dapat terlaksananya program kerja yang
di susun dengan baik.
2. Koordinasi dan Komunikasi
Koordinasi yang baik adalah kunci
keberhasilan program KPM. Ketua KPM harus mampu menjalin komunikasi yang
efektif dengan berbagai pihak, termasuk anggota kelompok, dosen pembimbing,
pihak institut, dan masyarakat setempat. Ketua harus menjadi jembatan yang
menghubungkan berbagai kepentingan dan memastikan bahwa semua pihak terlibat
dalam pelaksanaan program. Selain itu, ketua juga harus siap menghadapi
berbagai situasi dan permasalahan yang mungkin timbul selama kegiatan KPM,
serta mencari solusi yang terbaik.
3. Kepemimpinan dan Motivasi
Sebagai pemimpin kelompok, ketua KPM harus
mampu memberikan arahan dan motivasi kepada anggota kelompok. Ini termasuk
memastikan bahwa setiap anggota kelompok bekerja dengan penuh semangat dan
komitmen, serta membantu mereka mengatasi hambatan yang mungkin dihadapi. Ketua
juga harus mampu mengambil keputusan yang tepat dan bijaksana dalam berbagai
situasi, serta memberikan contoh yang baik dalam sikap dan tindakan.
4. Pengelolaan Sumber Daya
Ketua KPM bertanggung jawab dalam
pengelolaan sumber daya yang ada, baik itu sumber daya manusia, finansial,
maupun material. Ini termasuk mengelola anggaran yang Di kumpulkan oleh para
anggota, memastikan bahwa dana digunakan secara efektif dan efisien, serta
mengawasi penggunaan fasilitas dan perlengkapan yang tersedia. Pengelolaan
sumber daya yang baik akan memastikan bahwa semua program dan kegiatan dapat
berjalan lancar dan mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
5. Evaluasi dan Pelaporan
Setelah kegiatan KPM selesai, ketua
kelompok bertanggung jawab untuk melakukan evaluasi terhadap seluruh kegiatan
yang telah dilaksanakan. Evaluasi ini bertujuan untuk menilai keberhasilan
program, mengidentifikasi kelemahan dan kekurangan, serta mencari solusi untuk
perbaikan di masa depan. Selain itu, ketua juga harus menyusun laporan akhir
yang memuat seluruh aktivitas, hasil, dan evaluasi program KPM. Laporan ini
kemudian diserahkan kepada pihak institut sebagai bentuk pertanggungjawaban.
Tantangan yang Dihadapi Ketua KPM
1. Dinamika Kelompok
Setiap kelompok KPM terdiri dari
mahasiswa dengan latar belakang, kepribadian, dan kemampuan yang berbeda-beda.
Mengelola dinamika kelompok ini menjadi tantangan tersendiri bagi seorang
ketua. Ketua harus mampu menciptakan harmoni dalam kelompok, mengatasi konflik
yang mungkin timbul, serta memastikan bahwa setiap anggota kelompok merasa
dihargai dan dilibatkan dalam setiap kegiatan dan memberi motivasi kepada
anggota agar tidak stres Ketika mendapat tekanan baik dari institute maupun
Masyarakat Ketika menjalankan progam-progam yang ada.
2. Adaptasi dengan Lingkungan Baru
Kegiatan KPM biasanya dilakukan di
daerah yang berbeda dengan lingkungan kampus, baik dari segi budaya, bahasa,
maupun kondisi sosial-ekonomi. Ketua KPM harus mampu mengajak anggota kelompok
untuk beradaptasi dengan lingkungan baru ini, dan siap memberikan contoh ketika
bagaimana menjalin hubungan yang baik dengan masyarakat setempat. Kemampuan
untuk memahami dan menghargai perbedaan budaya serta membangun kerjasama dengan
masyarakat menjadi kunci keberhasilan program KPM.
3. Manajemen Waktu dan Tekanan
Kegiatan KPM memiliki jangka waktu yang
terbatas, sehingga ketua harus mampu mengelola waktu dengan baik untuk
memastikan bahwa semua program dan kegiatan dapat dilaksanakan sesuai dengan
jadwal yang telah ditetapkan. Selain itu, ketua juga harus siap menghadapi
tekanan, baik dari pihak institut maupun masyarakat, serta mampu mengatasi
stres dan tetap tenang dalam berbagai situasi.
Contoh Kasus: Kepemimpinan Ketua KPM yang Sukses
Sebagai ilustrasi, kita dapat melihat
contoh sukses dari seorang ketua KPM yang mampu menjalankan tugas dan tanggung
jawabnya dengan baik. Misalnya, di sebuah institut terkemuka, seorang ketua KPM
berhasil memimpin kelompoknya untuk melaksanakan program pemberdayaan
masyarakat di sebuah desa terpencil. Ketua ini, bersama dengan anggotanya,
merancang program pendidikan bagi anak-anak desa, pelatihan keterampilan bagi
ibu-ibu, serta program kesehatan untuk masyarakat umum dan itu juga terjadi
dalam kelompok KPM kali ini seperti Mengajar Di Sekolah dasar dan Madin,
megikuti rutinan yasinan dan sholawat serta Posyandu balita maupun lansia yang
sudah ada di sini.
Dengan komunikasi yang efektif dan
koordinasi yang baik, ketua berhasil mendapatkan dukungan dari berbagai pihak,
termasuk pemerintah desa, tokoh masyarakat, dan pihak institut. Ketua juga
mampu memotivasi anggotanya untuk bekerja dengan penuh semangat dan komitmen,
serta mengatasi berbagai tantangan yang dihadapi selama pelaksanaan program.
Pada akhir kegiatan, kelompok ini berhasil mencapai tujuan yang telah
ditetapkan, dan program yang mereka laksanakan memberikan dampak positif bagi
masyarakat desa.
Kegiatan Minggu Pertama
Kegiatan minggu pertama Diawali dengan
pembukaan yang berada di GOR Ki Mageti yang bersamaan dengan Universitas
Brawijaya Malang Dan Universitas Gajah Mada Jogjakarta Yang dilaksanakan pada
tanggal 01 juli kemarin serta pelepasan dari Kampus pada tanggal 02 juli, di Kampus
1 IAIN Ponorogo. Pada hari pertama sampai di posko kemarin penulis dan
teman-teman satu kelompok melaksanakan doa tahlil Bersama yang mana sebagai wujud
permohonan kepada Allah SWT agar diberikan Kesehatan keselamatan dan kelancaran
selama melaksanakan kegiatan Kuliah Pengabdibdian
Masyarakat dan pelaksanaan proker yang sudah di susun oleh teman-teman
kelompok,
Dilanjutkan hari berikutnya sowan-sowan
kepada Bapak Kepala Desa serta Perangkat-perangkat, Tokoh Masyarakat dan warga sekitar posko yang mana tujuanya
adalah memohom izin akan mengikuti kegiatan dan izin melaksanakan proker yang
akan di jalankan serta meminta bimbingan dan arahan tujuanya agar Ketika berada
di Masyarakat sekitan dan Desa tidak terjadi miskomunikasi, agar terjadinya kesinambungan
ketika pelaksanaan kegiatan dan pelaksanaan proker yang akan berlangsung.
Pembukaan secara seremonial dengan
Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Bapak Kepala Desa dan perangkat desa dilaksanakan pada hari Kamis
04 juli yang mana pada momen ini adalah penerimaan dari pihak desa serta momen
penitipan Teman-teman KPM Multidisiplin Kelompok 81 IAIN Ponorgo oleh DPL
Kepada Perangkat Desa Dan Tokoh Masyarakat agar di beri arahan maupun bimbingan
Ketika berada di Desa Sombo ini serta Ketika penjalanan Proker yang akan di
laksanakan, pada kesempatan pembukaan ini juga penulis mendapatkan pengalaman
sebagai perwakilan kelompok untuk memberikan sambutan kepada tamu undangan yang
hadir dan ini adalah sebuah pengalaman bagi penulis pentingnya belajar public speaking agar bisa berbicara di
hadapan umum dengan baik dan benar.
Pada minggu pertama ini juga adalah
waktu persiapan dan perizinan untuk melaksanakan proker penunjang yang telah di
susun oleh teman-teman KPM kelompok 81 IAIN Ponorogo seperti Mengajar di
Madin-Madin yang ada di Desa Sombo, Mengajar di SDN Sombo, mengikuti Posyandu
balita dan lansia dan piket di kantor Desa sebagai bentuk pengabdian dan
Belajar Urusan kepemerintahan desa.
Kegiatan Minggu Kedua
Pada minggu kedua ini sudah memasuki pelaksanaan
proker-proker penunjang yang sudah di tertera pada kegiatan minggu pertama dan
dalam pelaksanaan proker-proker penunjang ini di laksanakan secara bergantian
maupun di jadwal dengan alasan agar semua merasakan dan mendapatkan posisi yang
sama agar nantinya kita juga belajar untuk kedepanya sebagai bekal kita Ketika
bermasyarakat, contoh seperti pelaksanaan piket di desa ini, karena ini juga
permintaan dari bapak Kades sendiri di ibaratkan seperti magang di kantor desa
belajar tentang pemerintahan dan perdata di desa.
Pada minggu ini juga penulis mengikuti
kegiatan bersih desa atau biasa di sebut oleh Masyarakat disini dengan istilah
suran. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 12 juli yang di lakukan di dua
sumber mata air yang berada di desa ini yaitu sumber mata air sirah kulon yang
berada di dusun sombo dan sumber mata air sirah wetan yang berada di dusun
lembar yang mana kegiatan ini sudah menjadi agenda rutin setiap tahun yang
dilaksanakan pada bulan suro menurut penuturan dari salah satu tokoh Masyarakat
pembersihan dua sumber mata air ini adalah sebagai bentuk rasa Syukur warga
desa terhadap Allah swt. Karena sudah diberi rizki berupa air yang melimpah dan sangat berguna
bagi Masyarakat untuk keberlangsungan kehidupan baik pertanian untuk rumah dll.
Dan pada malam harinya di lanjutkan
dengan pagelaran wayang semalam suntuk dengan mengambil kisah “Dewaruci”, Oleh
dalang dari wonogiri. yang sudah menjadi adat turun menurun di desa sombo Ketika
kegiatan suran atau bersih desa ini berlangsung, pada kegiatan ini penulis dan teman-teman
dimintai tolong membantu persiapan dan ketika jalanya acara pagelaran wayang
ini berlangsung, ada yang menjadi MC, pramusaji dan dokumentasi. Pada malam
hari ini juga penulis ikut serta menghibur Masyarakat desa sombo dengan
menyumbang lagu duet dengan salah satu rekan dari KPM 81 IAIN Ponorogo.
Kegiatan Minggu Ketiga
Pada minggu ketiga, kami melaksanakan
Dua program kerja utama yaitu, seminar tentang bullying di SD Sombo. Acara ini
bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada siswa tentang bahaya bullying dan
cara menghadapinya. Proker ini bertujuan memberikan pemahaman terhadan siswa
agar menjauhi perilaku perilaku bulliying yang kerap terjadi di Tingkat sekolah
dasar. Pada proker kali ini penulis di beri kesempatan untuk menyampaikan
materi yang sudah di persiapkan oleh teman-teman sebelumnya. Selain itu, kami
juga melaksanakan kegiatan pemberdayaan Masjid dengan mengecat Masjid dan
memberikan labelling Masjid berupa membuatkan kaligrafi yang bertuliskan Nama Masjid
beserta Alamat Masjid, kegiatan ini tidak hanya bertujuan memperindah masjid,
tetapi juga meningkatkan semangat gotong royong dan kebersamaan di antara rekan
satu kelompok.Partisipasi aktif dari masyarakat dan semangat kolaboratif yang
tinggi menjadikan kedua kegiatan ini berjalan sukses dan memberikan dampak
positif bagi lingkungan sekitar.
Kegita Minggu Keempat
Pada minggu keempat pelaksanaan program
kerja perawatan jenazah dan pengolahan sampah organik untuk pupuk organik
dengan teknik biopori, kegiatan berjalan dengan lancar dan penuh antusiasme
dari seluruh Masyarakat dan tamu undangan. Tim perawatan jenazah berhasil
melakukan sejumlah kegiatan yang mendukung kebersihan dan kehormatan prosedur
perawatan jenazah dengan tuntunan syariat yang benar dan baik dengan
mendatangkan pemateri dari Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Poncol,
sementara tim pengolahan sampah organik fokus pada pembuatan pupuk organik
melalui teknik biopori yang mana mendatangkan pemateri dari Salah satu Dosen
IAIN Ponorogo, yang terbukti efektif meningkatkan kesuburan tanah dan menjaga
lingkungan. Kombinasi dua program ini tidak hanya memberikan manfaat kesehatan
dan kebersihan tetapi juga kontribusi positif terhadap kelestarian lingkungan.
Penutupan dan Pamitan
Dengan selesainya seluruh proker baik
proker inti maupun penunjang maka tak afdhol Ketika kita berpamitan saja tanpa
memberikan kesan terindah sebelum berpisah dengan warga Masyarakat sombo, maka penutupan
sekalian pamitan ini kami rangkum dengan kegiatan “Sombo Bersholawat
memperingati tahun baru hijriyah dan penutupan KPM 81 IAIN Ponorogo” yang
berkolaborasi dengan ranting NU Desa Sombo yang membersamai Rutinan Ijtima’il Quran
binnadhor yang di laksanakan pada tanggal 04 juli di lanjut pada malam harinya
Majelis Sholawat Simtuddhuror yang berjalan dengan Khidmah dan Di tutup dengan
Mahalul Qiyam dan Do’a Bersama dengan hajat semoga selama 40 hari ini di Desa
sombo bukan tentang hal yang mengesankan saja tetapi dapat bermanfaat bagi kita
dan warga Masyarakat sombo, perpisahan ini adalah momen haru bagi kami dan
warga Masyarakat sombo yang sudah menganggap kami sebagai anak sendiri yang
mana selama 40 hari kita Bersama-sama mengikuti seluruh kegiatan Masyarakat
baik kegiatan desa dan lingkungan Masyarakat yang kita tinggali dan tak lupa
penulis pada kesempatan kali ini memberikan seuntai kata perpisahan dengan
permohonan maaf dan ucapan rasa terima kasih kepada seluruh elemen Masyarakat
sombo yang telah membantu membersamai dan membimbing kita selama 40 hari ini.
Mungkin 40 hari di sombo adalah waktu
yang singkat bagi kami karena sudah merasakan menjadi warga lokal, dalam kata
perpisahan sebelum pamit penulis dan rekan-rekan di beri pesan agar semangat
bekarya dan menyelesaikan perkuliahan dan tak lupa memberi apresiasi yang
sangat besar kepada KPM 81 IAIN Ponorogo karena telah menyelesaikan Seluruh
tugas dan program kerja yang telah di susun, dengan itu kami sekelompok telah
menyelesaikan tugas di desa sombo dan momen itu adalah momen yang sangat haru
bagi kami dan warga Masyarakat sombo yang ramah.
Kesimpulan
Tanggung jawab seorang ketua pada
kegiatan Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) sangatlah besar dan kompleks. Dari
perencanaan dan pengorganisasian, koordinasi dan komunikasi, kepemimpinan dan
motivasi, hingga pengelolaan sumber daya serta evaluasi dan pelaporan, semua
aspek ini memerlukan kemampuan dan dedikasi yang tinggi. Ketua KPM harus mampu
menghadapi berbagai tantangan, baik yang berasal dari dinamika kelompok,
adaptasi dengan lingkungan baru, maupun manajemen waktu dan tekanan.
Kesuksesan program KPM sangat
bergantung pada kemampuan ketua dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya.
Dengan kepemimpinan yang baik, komunikasi yang efektif, serta manajemen yang
tepat, seorang ketua KPM dapat membawa kelompoknya mencapai tujuan dan
memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. KPM bukan hanya sebuah kegiatan
akademik, tetapi juga sebuah pengalaman belajar yang berharga bagi mahasiswa
dalam mengembangkan kemampuan kepemimpinan, kerjasama, dan pengabdian kepada
masyarakat.
Kesan selama melaksanakan KPM di Desa
Sombo adalah banyak sekali pengalaman berharga bagi penulis baik pengalaman
kehidupan dan bermasyarakat terimakasih kepada Bapak Kades, Perangkat Desa, Pak
Hendrik Bu Ika dan tak lupa Pak Kamituwo Sombo Pak Rohmadin yang selalu
membimbing kita selama 40 hari disini.
Comments
Post a Comment